
Kita suka berpikir bahwa inteligensi kita buat dengan sendiri, itu terjadi di dalam otak kita, produk dari pikiran batin kita sendiri. Tapi dengan kemunculan Google, Wikipedia dan sarana online lainnya banyak orang mempertanyakan dampak dari teknologi tersebut terhadap otak kita.
Apakah mengetik “Siapa yang memerankan James Bond di film tersebut?” Sama seperti mengetahui bahwa jawabannya adalah Sean Connery, George Lazenby, Roger Moore, Timothy Dalton, Pierce Brosnan dan Daniel Craig (… ditambah David Niven di Casino Royale)? Dapatkah kita mengatakan kita tahu jawaban atas pertanyaan ini, jika sebenarnya yang kita ketahui adalah bagaimana mengakses informasi secara cepat?
Bagaimana kita berusaha untuk mendefinisikan kecerdasan? Dan jawabannya cukup menarik. Karena ketika Anda melihat bukti dari sebuah penelitian psikologi, hal tersebut menunjukkan bahwa banyak aspek dari kecerdasan kita berasal dari bagaimana kita berkoordinasi dengan orang lain dan lingkungan kita.
Sebuah teori yang berpengaruh di kalangan psikolog mengatakan bahwa manusia pelit secara kognitif. Artinya kita enggan untuk melakukan pekerjaan yang mengharuskan kita untuk berpikir kecuali jika kita terpaksa.
Kita mencoba untuk menghindari berpikir terutama jika terdapat jalan pintas untuk mengetahui sesuatu. Jika Anda pernah memilih kandidat politik berdasarkan senyum yang paling jujur, atau memilih restoran berdasarkan berapa banyak orang yang sudah duduk di sana, maka Anda sudah menjadi orang yang pelit secara kognitif.
Teori ini menjelaskan mengapa kita lebih suka mengetik kode pos ke dalam mesin pencari atau Google Maps ketimbang menghafal dan mengingat lokasi tempat – sebab itu jauh lebih mudah.
Penelitian menunjukkan bahwa orang cenderung tidak mengandalkan ingatan mereka untuk hal-hal yang dapat mereka akses dengan mudah. Hal-hal yang umum kita jumpai, yang dapat berubah dengan cukup radikal tanpa orang sadari.
Beberapa eksperimen menunjukkan bahwa bangunan entah bagaimana bisa hilang dari gambar yang kita lihat, atau orang yang kita ajak bicara dapat diganti dengan orang lain, dan sering kita tidak melihat ini – fenomena yang disebut “perubahan yang membutakan”.
Ini bukanlah contoh kebodohan manusia – jauh dari itu sebenarnya – ini adalah contoh dari efisiensi mental. Pikiran kita bergantung pada dunia sebagai catatan yang lebih baik dari memori, dan biasanya itu adalah asumsi yang tepat.
Akibatnya, para filsuf mengatakan bahwa pikiran manusia dirancang untuk memperluas dirinya dalam lingkungan. Begitu banyak sehingga, mereka menjelaskan, pemikiran benar-benar terjadi di lingkungan sebanyak itu terjadi di otak kita. Filsuf Andy Clark menjelaskan bagaimana manusia mendapatkan solusi terhadap suatu masalah – memiliki sarana yang tepat benar-benar berarti Anda mengetahui jawabannya.
